06.59
Disaat memulai menulis blog baru, butuh waktu yang lama untuk bisa membubuhkan kata- kata yang pas di dalam blog. Seperti sekarang, tugas dari kapan juga, baru dikerjain kapan -__-". Gapapa lah yang penting ngerjain. Tugasnya gampang kok, cuman disuruh bikin blog baru, dan diisi dengan TEMPAT LAHIR, DATA DIRI, TEMPAT KERJA, dan TENTANG KAMPUS. Gampang kan?!
Oke kali ini aku akan membahas tentang TEMPAT LAHIR. Well, karena aku kelahiran Jombang, yang terkenal panas dan Pesantren Tebu Ireng nya itu, ya aku bakalan cerita soal JOMBANG. Jombang ya bukan Jomblo, matanya buka lebar- lebar, entar baper lagi, hahaha..
Jombang. Jombang itu Kota atau Kabupaten sih? Kalau hasil searching sih, Jombang itu Kabupaten.Lhah, kalau ada Kabupaten, berarti ada Kota juga dong.Iya aku tahu, pasti ada kota nya. Cuman lebih terkenal sebagai Kabupaten. Kalo orang mau ke Jombang, pasti mereka ngenalnya ke Tebu Ireng, dan makam Gus Dur.
peta Jombang
Nih ada sedikit info buat kalian yang masih asing sama Jombang. Diambil dari wikipedia.
Kabupaten Jombang (
Hanacaraka: ꦗꦺꦴꦩ꧀ꦧꦁ) adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur. Luas wilayahnya 1.159,50 km²[2],
dan jumlah penduduknya 1.201.557 jiwa (2010), terdiri dari 597.219
laki-laki, dan 604.338 perempuan. Pusat pemerintahan Kabupaten Jombang
terletak di tengah-tengah wilayah kabupaten, memiliki ketinggian 44
meter di atas permukaan laut, dan berjarak 79 km (1,5 jam perjalanan)
dari barat daya Surabaya,
ibu kota Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Jombang memiliki posisi yang
sangat strategis, karena berada di persimpangan jalur lintas utara, dan
selatan Pulau Jawa (Surabaya-Madiun-Solo-Yogyakarta), jalur Surabaya-Tulungagung, serta jalur Malang-Tuban.[3])
Jombang juga dikenal dengan sebutan
Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya.
[4]
Bahkan ada pameo yang mengatakan Jombang adalah pusat pondok pesantren
di tanah Jawa karena hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa pasti
pernah berguru di Jombang. Di antara pondok pesantren yang terkenal
adalah
Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, Pesantren Attahdzib (PA), dan Darul Ulum (Rejoso).
Banyak tokoh terkenal Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang, di antaranya adalah
Presiden Republik Indonesia ke-4 yaitu KH Abdurrahman Wahid, pahlawan nasional KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim, tokoh intelektual Islam Nurcholis Madjid, serta budayawan Emha Ainun Najib dan seniman Cucuk Espe.
Konon, kata
Jombang merupakan akronim dari kata
berbahasa Jawa yaitu ijo (Indonesia: hijau) dan abang (Indonesia: merah).
Ijo (hijau) mewakili kaum santri (agamis), dan abang (merah) mewakili
kaum abangan (nasionalis/kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup
berdampingan, dan harmonis di Kabupaten Jombang. Bahkan kedua elemen ini
digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.
Kabupaten Jombang

Lambang Kabupaten Jombang
Moto: Jombang Beriman (Bersih, Indah, dan Nyaman)
Semboyan: The Heart of East Java
Slogan pariwisata: Friendly and Religious
Julukan: The City of Tolerance, Kota Santri | | | |
Sejarah
Penemuan fosil Homo mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan bahwa seputaran wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang diduga telah dihuni sejak ratusan ribu tahun yang lalu.
Tahun 929, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, diduga karena letusan Gunung Merapi atau serangan Kerajaan Sriwijaya. Beberapa literatur menyebutkan pusat kerajaan yang baru ini terletak di Watugaluh. Suksesor Mpu Sindok adalah Sri Isyana Tunggawijaya (947-985) dan Dharmawangsa (985-1006). Tahun 1006, sekutu Sriwijaya menghancurkan ibukota kerajaan Mataram, dan menewaskan Raja Dharmawangsa. Airlangga,
putera mahkota yang ketika itu masih muda, berhasil meloloskan diri
dari serbuan Sriwijaya, dan ia menghimpun kekuatan untuk mendirikan
kembali kerajaan yang telah runtuh. Bukti petilasan sejarah Airlangga
sewaktu menghimpun kekuatan kini dapat dijumpai di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tahun 1019, Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan, yang kelak wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali; serta mengadakan perdamaian dengan Sriwijaya.
Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah yang kini Kabupaten Jombang merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedang gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Hingga ini banyak dijumpai nama-nama desa/kecamatan yang diawali dengan prefiks mojo-, di antaranya Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojotrisno, Mojongapit, dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.
Menyusul runtuhnya Majapahit, agama Islam
mulai berkembang di kawasan, yang penyebarannya dari pesisir pantai
utara Jawa Timur. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram
Islam. Seiring dengan melemahnya pengaruh Mataram, Kolonialisasi Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-17, yang kemudian sebagai bagian dari Hindia Belanda pada awal abad ke 18, dan juga seperti di daerah lain juga pernah diduduki oleh Bala Tentara Dai Nippon (Jepang) pada tahun 1942 sampai Indonesia merdeka di tahun 1945.
Jombang juga menjadi bagian dari wilayah gerakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Etnis Tionghoa juga berkembang dengan adanya tiga kelenteng di wilayah Jombang, dan sampai sekarang masih berfungsi. Etnis Arab
juga cukup signifikan berkembang. Hingga kini pun masih ditemukan
sejumlah kawasan yang mayoritasnya adalah etnis Tionghoa, dan Arab,
terutama di kawasan perkotaan.
Tahun 1811, didirikan Kabupaten Mojokerto, di mana meliputi pula wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang. Jombang merupakan salah satu residen di dalam Kabupaten Mojokerto. Bahkan Trowulan (di mana merupakan pusat Kerajaan Majapahit), adalah masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang.
Alfred Russel Wallace (1823-1913), naturalis asal Inggris yang memformulasikan Teori Evolusi, dan terkenal akan Garis Wallace, pernah mengunjungi, dan bermalam di Jombang ketika mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia.
Tahun 1910, Jombang memperoleh status Kabupaten, yang memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto, dengan Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai Bupati Jombang pertama.
Masa pergerakan nasional, wilayah Kabupaten Jombang memiliki peran
penting dalam menentang kolonialisme. Beberapa putera Jombang merupakan
tokoh perintis kemerdekaan Indonesia, seperti KH Hasyim Asy'ari (salah satu pendiri NU dan pernah menjabat ketua Masyumi) dan KH Wachid Hasyim (salah satu anggota BPUPKI termuda, serta Menteri Agama RI pertama).
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1950
tentang Pembentukan Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Jawa
Timur mengukuhkan Jombang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa
Timur.
Pembagian administratif
Peta administratif Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang terdiri atas 21 kecamatan, yang mencakup 306 desa dan 4 kelurahan.[7]
Sebagai pusat pemerintahan adalah Kecamatan Jombang. Kecamatan
Ngusikan, merupakan pemekaran dari Kecamatan Kudu yang dibentuk pada
tahun 2001.
| No. |
Kecamatan |
Luas Wilayah
(km²) |
Jumlah
desa/kelurahan |
| 1 |
Bandar Kedungmulyo |
32,50 |
11 |
| 2 |
Perak |
29,05 |
13 |
| 3 |
Gudo |
34,39 |
18 |
| 4 |
Diwek |
47,70 |
20 |
| 5 |
Ngoro |
49,86 |
13 |
| 6 |
Mojowarno |
78,62 |
19 |
| 7 |
Bareng |
94,27 |
13 |
| 8 |
Wonosalam |
121,63 |
9 |
| 9 |
Mojoagung |
60,18 |
18 |
| 10 |
Sumobito |
47,64 |
21 |
| 11 |
Jogoroto |
28,28 |
11 |
| 12 |
Peterongan |
29,47 |
14 |
| 13 |
Jombang |
36,40 |
20 |
| 14 |
Megaluh |
28,41 |
13 |
| 15 |
Tembelang |
32,94 |
15 |
| 16 |
Kesamben |
51,72 |
14 |
| 17 |
Kudu |
77,75 |
11 |
| 18 |
Ngusikan |
34,98 |
11 |
| 19 |
Ploso |
25,96 |
13 |
| 20 |
Kabuh |
97,35 |
16 |
| 21 |
Plandaan |
120,40 |
13 |
Geografi
Relief
Peta topografi Kabupaten Jombang
Sebagian besar wilayah Kabupaten Jombang merupakan dataran rendah,
yakni 90% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 500 meter dpl.
Secara umum Kabupaten Jombang dapat dibagi menjadi 3 bagian:
- Bagian utara, terletak di sebelah utara Sungai Brantas,
meliputi sebagian besar Kecamatan Plandaan, Kecamatan Kabuh, dan
sebagian Kecamatan Ngusikan, dan Kecamatan Kudu. Merupakan daerah
perbukitan kapur yang landai dengan ketinggian maksimum 500 m di atas
permukaan laut. Perbukitan ini merupakan ujung timur Pegunungan Kendeng.
- Bagian tengah, yakni di sebelah selatan Sungai Brantas, merupakan
dataran rendah dengan tingkat kemiringan hingga 15%. Daerah ini
merupakan kawasan pertanian dengan jaringan irigasi yang ekstensif serta
kawasan permukiman penduduk yang padat.
- Bagian selatan, meliputi Kecamatan Wonosalam, dan sebagian Kecamatan
Bareng, dan Mojowarno. Merupakan daerah pegunungan dengan kondisi
wilayah yang bergelombang. Semakin ke tenggara, semakin tinggi. Hanya
sebagian Kecamatan Wonosalam yang memiliki ketinggian di atas 500 m.
Sungai
Sungai Brantas,
yang merupakan sungai terbesar di Jawa Timur, memisahkan Kabupaten
Jombang menjadi dua bagian: bagian utara (24%) dan bagian selatan (76%),
sepanjang ±44 km. Kabupaten Jombang juga terus berupaya dalam
menyelamatkan tanggul, dan ekosistem yang ada di sepanjang sungai
Brantas. Langkah itu antara lain, dengan membentuk Kelompok Masyarakat
(Pokmas) yang anggotanya terdiri dari para penambang pasir yang ada di 8
kecamatan, dan tersebar di 34 desa.[8] Sungai-sungai lain yang signifikan adalah Sungai Marmoyo (23 km), Sungai Ngotok Ring Kanal (27 km), Sungai Konto (14 km), Sungai Gunting (12 km), dan Sungai Jurangjero (12 km).
Iklim dan cuaca
Wilayah Kabupaten Jombang mempunyai letak geografi antara 5.20° -
5.30° Bujur Timur, dan antara :7.20' dan 7.45' lintang selatan dengan
luas wilayah 115.950 Ha atau 2,4 % luas Provinsi Jawa Timur.
Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang
terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah
hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 - 2500 mm pertahun.
Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500
meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm
pertahunnya.
Kabupaten Jombang adalah termasuk yang mempunyai iklim tropis,
sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang
diberikan oleh Smidt, dan Ferguson termasuk tipe iklim D. Di mana tipe
ini biasanya musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai April, dan
musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.[9]
Tata guna lahan
Pola penggunaan tanah di Kabupaten Jombang (2003) terbanyak digunakan untuk area persawahan (42%), diikuti dengan permukiman (19%), hutan (18%), tegal (12%), dan lainnya. Sebagian besar sawah (82%) merupakan irigasi teknis, dan sebagian (10%) merupakan sawah tadah hujan.
Penduduk
Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Jombang adalah 1.201.557 jiwa (2010)
terdiri dari 597.219 laki-laki, dan 604.338 perempuan. Sedikitnya 55%
penduduk tinggal di wilayah perkotaan.
Kepadatan penduduk di Kabupaten Jombang sebesar 997 jiwa/km².
Konsentrasi sebaran penduduk terutama di Kecamatan Jombang (dengan
tingkat kepadatan penduduk tertinggi, yakni 3.198 jiwa/km²), Kecamatan
Tembelang (bagian selatan), Kecamatan Peterongan (bagian tengah, dan
selatan), Kecamatan Jogoroto, Kecamatan Mojowarno (bagian utara, dan
timur), sepanjang jalan raya Jombang-Peterongan-Mojoagung-Mojokerto,
serta sepanjang jalan raya Jombang-Diwek-Blimbing-Ngoro-Kandangan.
Kawasan padat penduduk lainnya adalah kawasan perkotaan di kecamatan
Ploso, Perak, dan Ngoro. Bagian barat laut (yang merupakan perbukitan
kapur) dan bagian tenggara (yang merupakan daerah pegunungan) merupakan
kawasan yang memiliki kepadatan penduduk jarang. Pertumbuhan penduduk
tahun 2007 s/d 2009 meningkat rata-rata 11,01 % pertahun.[10]
Etnis dan bahasa
Penduduk Jombang pada umumnya adalah etnis Jawa. Namun, terdapat minoritas etnis Tionghoa dan Arab
yang cukup signifikan. Etnis Tionghoa, dan Arab umumnya tinggal di
kawasan perkotaan, dan bergerak di sektor perdagangan, dan jasa.
Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa yang dituturkan banyak memiliki pengaruh Dialek Surabaya
yang terkenal egaliter, dan blak-blakan. Kabupaten Jombang juga
merupakan daerah perbatasan dua dialek Bahasa Jawa, antara Dialek
Surabaya, dan Dialek Mataraman. Beberapa kawasan yang berbatasan dengan
Kabupaten Nganjuk, dan Kediri memilki pengaruh Dialek Mataraman yang
banyak memiliki kesamaan dengan Bahasa Jawa Tengahan. Salah satu ciri
khas yang membedakan Dialek Surabaya dengan Dialek Mataram adalah
penggunaan kata arek (sebagai pengganti kata bocah) dan kata cak (sebagai pengganti kata mas).[11]
Agama
Sebagian besar agama yang dianut penduduk Jombang adalah Islam dianut oleh 95% penduduk Kabupaten Jombang, diikuti dengan agama Kristen Protestan (2%), Katolik (1.5%), Buddha (1%), Hindu (0,3%), dan lainnya (0,2%).[12]
Meskipun Jombang dikenal dengan sebutan "kota santri", karena
banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya,
Namun kehidupan beragama di Kabupaten Jombang sangat toleran. Di
Kecamatan Mojowarno,
(atau sekitar 8 km dari Ponpes Tebuireng), merupakan kawasan dengan
pemeluk mayoritas beragama Kristen Protestan, dan daerah tersebut pernah
menjadi pusat penyebaran salah satu aliran agama Kristen Protestan pada
era Kolonial Belanda, dengan bangunan gereja tertua, dan salah satu
terbesar di Jawa Timur yaitu Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno
dengan dilengkapi rumah sakit Kristen, dan Sekolah-sekolah Kristen.
Agama Hindu juga dianut sebagian penduduk Jombang, terutama di kawasan
selatan (Wonosalam, Bareng, dan Ngoro). Selain itu, Kabupaten Jombang
memiliki tiga kelenteng
yang cukup tua, dan terkenal di pulau Jawa, yakni Hok Liong Kiong (福隆宮)
di Kecamatan Jombang (didirikan ± tahun 1890), Hong San Kiong (鳳山宮) di
Kecamatan Gudo (didirikan ± tahun 1710) dan Boo Hway Bio (茂淮廟) di
Kecamatan Mojoagung (didirikan ± tahun 1930).
Pendidikan
Kabupaten Jombang memiliki sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Darul Ulum (UNDAR), STKIP PGRI Jombang, STIE PGRI Dewantara, Universitas Bahrul Ulum, Intitut Keislaman Hasyim Asy'ari (Ikaha), Universitas Pesantren Darul Ulum
(UNIPDU), STIKES Pemkab Jombang, STIKES ICME, Sekolah Tinggi Agama
Islam At-Tahdzib (STAIA), serta sejumlah akademi. Universitas Darul Ulum
merupakan perguruan tinggi terkemuka di Jombang.
Pada tahun 2005, Kabupaten Jombang terdapat 560 SD negeri, dan 22 SD swasta; 46 [{Sekolah Menengah Pertama|SMP]] negeri, dan 86 SMP swasta; 12 SMA negeri, dan 37 SMA swasta; 7 SMK negeri, dan 39 SMK swasta. Sementara, untuk sekolah formal Islam, terdapat 5 MI negeri, dan 257 MI swasta; 17 MTs negeri, dan 102 MTs swasta; serta 10 MA negeri, dan 65 MA swasta.[13]
Sekolah favorit di Kabupaten Jombang pada umunya untuk tingkat SD
adalah SDN Kepanjen 2, SDN Jombatan 3, dan SD Islam Roushon Fikr, untuk
tingkat SMP adalah SMPN 1 Jombang,SMPN 2 Jombang dan SMPN 1 Tembelang,
sedang untuk tingkat SMA adalah SMA Negeri 2 Jombang dan SMA Negeri Mojoagung yang berstatus RSBI, SMA Negeri 3 Jombang, SMA Negeri 1 Jombang dan SMA Unggulan Darul Ulum 1 dan 2. Sekolah kejuruan di Jombang juga menjadi sekolah unggulan untuk remaja Jombang misalnya SMKN 1 Jombang (SMEA) yang memiliki hotel sendiri, SMKN 2 Jombang (SMKK) dan SMKN 3 Jombang (STM).
Komunikasi dan media massa
Jombang memiliki satu kode area dengan Mojokerto, yakni 0321.[14] Operator telepon seluler yang beroperasi di Jombang untuk GSM adalah Telkomsel, Indosat, 3, dan Excelcomindo; sedang untuk CDMA hanyalah Smartfren.
Di Jombang terdapat beberapa stasiun radio FM (termasuk dua milik
pemerintah), serta sejumlah tabloid, majalah, dan surat kabar regional. Leading newspaper di Jombang antara lain adalah Harian Seputar Indonesia (SINDO), Jawa Pos (Radar Mojokerto), Kompas, Duta Masyarakat, Surya,
Bangsa, dan Memorandum, Surabaya Pagi, Jatim Mandiri. Dan beberapa
lagi, media mingguan yang cukup eksis di kota santri ini, Radar Minggu,
Rakyat Pos, tabloid SIDAK. Media tersebut berbasis berita lokal, dan
telah beredar di hampir seluruh wilayah di Jawa Timur. Di Jombang dapat
dengan jelas menangkap saluran TVRI, 13 TV swasta nasional, 1 stasiun
televisi lokal Jombang (RCTV), serta beberapa stasiun televisi lokal di
Surabaya, dan Kediri.[15]
Perekonomian
Pertanian
Sektor pertanian menyumbang 38,16% total PDRB
Kabupaten Jombang. Meski nilai produksi pertanian mengalami
peningkatan, namun kontribusi sektor ini mengalami penurunan. Sektor
pertanian digeluti oleh sedikitnya 31% penduduk usia kerja. Tradisi,
kemudahan yang disediakan oleh alam, dan adanya terobosan baru rupanya
menjadikan alasan untuk bertahan. Kesuburan tanah di sini konon
dipengaruhi oleh material letusan Gunung Kelud yang terbawa arus deras Sungai Brantas dan Kali Konto
serta sungai-sungai kecil lainnya. Sistem pengairan juga sangat
ekstensif, dan memadai, dan 83% di antaranya merupakan irigasi teknis.
Sedikitnya 42% lahan di Jombang digunakan sebagai area persawahan.
Letaknya di bagian tengah kabupaten dengan ketinggian 25-100 meter dpl.
Lokasi ini ditanamai tanaman padi serta palawija seperti jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi kayu. Komoditas andalan tanaman pangan Kabupaten Jombang di tingkat provinsi adalah padi, jagung, kacang kedelai dan ubi kayu. Besarnya produksi padi telah menempatkan Jombang sebagai daerah swasembada beras di provinsi Jawa Timur.
Di bagian utara merupakan sentra buah-buahan seperti mangga, pisang, nangka, dan sirsak. Kecamatan Wonosalam juga merupakan sentra buah-buahan terutama Durian Bido. Kecamatan Perak merupakan penghasil utama jeruk nipis, yang diunggulkan karena tipis kulitnya serta banyak airnya.
Perkebunan
Komoditas andalan perkebunan Kabupaten Jombang di tingkat provinsi adalah tebu. Sedang di tingkat regional, komoditas unggulan adalah serat karung, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, randu, tembakau, dan beberapa tanaman Toga (lengkuas, kencur, kunyit, jahe, dan serai). Proyek percontohan Toga terlengkap di Jombang adalah Taman Toziega PKK Kabupaten Jombang, dan Toziega Asri di Desa Dapurkejambon Jombang. Toziega
(Taman Obat Gizi, dan Ekonomi Keluarga) merupakan pengembangan dari
Toga (Tanaman Obat Keluarga). Di mana dalam Toziega ditambahkan
pengadaan sumber gizi secara mandiri, dan komersialisasi dari hasil
pengelolaan tanaman obat. Gagasan proyek percontohan Toziega dicetuskan,
dan dibidani oleh Ir. Tyasono Sankadji
yang kemudian menjadi salah satu jargon kebanggaan pertanian, dan
perkebunan Kabupaten Jombang. Tebu merupakan bahan mentah utama industri
gula di Jombang, (di mana Jombang memiliki dua pabrik gula). Perkebunan
tebu tersebar merata di dataran rendah, dan dataran tinggi Kabupaten
Jombang. Daerah pegunungan di sebelah tenggara (terutama Kecamatan
Wonosalam) merupakan sentra tanaman perkebunan kopi, kakao, dan cengkeh.
Daerah pegunungan di utara merupakan penghasil utama tembakau di
Jombang.
Kehutanan
Hampir 20% wilayah Kabupaten Jombang merupakan kawasan hutan.
Kawasan hutan tersebut terdapat di bagian utara (kecamatan Plandaan,
Kabuh, Kudu, dan Ngusikan) serta bagian tenggara Kabupaten Jombang
(kecamatan Wonosalam, Bareng, dan Mojowarno). Di wilayah hutan Kabupaten
Jombang, 61% merupakan hutan produksi, 23% hutan tebang pilih, 15%
hutan wisata, dan 1,5% merupakan hutan lindung. Kayu jati adalah komoditas unggulan subsektor kehutanan di Kabupaten Jombang.
Peternakan dan perikanan
Komoditas peternakan Kabupaten Jombang meliputi ayam pedaging, ayam petelur, ayam buras, sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba, dan itik.
Ayam pedaging merupakan komoditas unggulan peternakan di tingkat
provinsi. Beberapa perusahaan menengah bergerak di bidang peternakan.
Mengingat lokasi Kabupaten Jombang yang bukan kawasan pantai, perikanan
perairan umum, dan kolam merupakan komoditas unggulan di bidang
perikanan.
Perdagangan
Sektor perdagangan menyumbang PDRB kabupaten terbesar kedua setelah
pertanian. Majunya pertanian di Jombang rupanya turut menggairahkan
sektor perdagangan. Kabupaten Jombang merupakan salah satu penyuplai
utama komoditas pertanian tanaman pangan, dan perkebunan di Jawa Timur.
Kabupaten Jombang memiliki 17 pasar umum
yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten, serta 12 pasar hewan. Kota
Jombang sendiri memiliki Pasar Legi Citra Niaga, Pasar Pon, Pasar Loak,
dan Pasar Burung (Pasar Senggol). Perdagangan retail dilayani oleh
berbagai pusat perbelanjaan serta supermarket besar maupun kecil. Di
samping Pasar Legi Citra Niaga, dua kawasan ruko yang terbesar adalah
Kompleks Simpang Tiga, dan Kompleks Cempaka Mas. Selain kota Jombang,
kawasan pusat komersial regional di Kabupaten Jombang terdapat di
Mojoagung, Ploso, dan Ngoro.i
Industri manufaktur
Gedung Industri Perusahaan CJI di Jombang.
Sektor industri
manufaktur menyumbang PDRB kabupaten terbesar ketiga setelah pertanian,
dan perdagangan. Majunya industri di Jombang ditopang oleh kemudahan
transportasi, serta letak Kabupaten Jombang yang strategis, yakni berada
di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa, dan bersebelahan dengan
kawasan segitiga industri Surabaya-Mojokerto-Pasuruan.
Industri besar di Kabupaten Jombang yang merambah pasar luar negeri
di antaranya adalah PT Pei Hai Wiratama Indonesia (produk sepatu, topi,
dan T-Shirt dengan brand "Diadora" dan "Fila") di Jogoloyo (Jogoroto);
PT Japfa Comfeed (produk makanan ternak) di Tunggorono (Jombang); PT
Usmany Indah (produk kayu olahan), MKS-Sampoerna (produk rokok) di
Ploso, dan Ngoro, PT Cheil Jedang Indonesia (produk industri kimia
setengah jadi) di Jatigedong (Ploso);PT Cheil Jedang Superfeed (produk
pakan ternak) di Mojoagung, PT Mentari International (produk mainan
anak) di Tunggorono (Jombang), serta PT Seng Fong Moulding Perkasa
(produk ubin kayu). Kabupaten Jombang juga memiliki dua pabrik gula: PG
Djombang Baru di Kecamatan Jombang, dan PG Tjoekir di Kecamatan Diwek.
Sebanyak 96% industri manufaktur di Kabupaten Jombang merupakan
industri kecil, dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 60%. Industri
kecil yang merambah pasar luar negeri adalah industri kerajinan
manik-manik kaca (di Desa Plumbon-Gambang, Kecamatan Gudo) dan industri
kerajinan cor kuningan (di Desa Mojotrisno, Mojoagung). Kedua kerajinan
tersebut adalah khas Jombang. Sementara itu, industri kecil lain yang
dipasarkan di tingkat nasional antara lain adalah mebelair (di
Mojowarno), anyaman tas (di Mojowarno), limun (di Bareng, dan Ngoro),
serta Kecap "Ikan Dorang", yang merupakan salah satu trade mark Jombang.
Pertambangan dan Penggalian
Saat ini Kabupaten Jombang tidak terdapat aktivitas pertambangan.
Namun diduga bagian utara, dan barat Kabupaten Jombang terdapat deposit minyak bumi. Bahan galian di Kabupaten Jombang antara lain yodium, diatomit, andesit, lempung, dan pasir batu.
Perbankan
Di Kabupaten Jombang terdapat beberapa Bank besar yang beroperasi seperti Bank Jatim, Bank Danamon, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, BNI, BII, Bank Mega dan lain-lain. Bank-bank tersebut juga menyediakan pelayanan ATM hampir disetiap kecamatan.
Transportasi
Kabupaten Jombang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa (Jogjakarta-Surabaya-Bali). Selain itu, Kabupaten Jombang juga merupakan persimpangan jalur menuju Kediri/Tulungagung, Malang, serta Babat/pantura. Pusat kota Jombang dapat ditempuh 2½ jam dari ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya, atau dari Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo. Saat ini juga telah dikembangkan ruas jalan tol Mojokerto-Kertosono, yang melintasi bagian utara Kabupaten Jombang.
Bus
Terminal Kepuhsari,
yang terletak di Kecamatan Peterongan, 5 km dari pusat kota Jombang,
merupakan terminal utama kabupaten yang menghubungkan Jombang dengan
kota-kota lainnya. Jalur bus jurusan Surabaya, Kediri/Tulungagung, dan Solo/Jogja
merupakan jalur yang beroperasi 24 jam nonstop. Bus yang ingin
memberhentikan para penumpang yang ingin ke Jombang Kota biasanya
diturunkan di “Simpang Tiga” kota Jombang yang biasanya disebut Terminal
Lama.
Kereta api
Kabupaten Jombang juga dihubungkan dengan kota-kota lain di Pulau Jawa dengan menggunakan jalur kereta api. Stasiun Jombang merupakan stasiun utama, disamping 4 stasiun lainnya: Sembung, Peterongan, Sumobito, dan Curahmalang.
- Jalur kereta api yang melintasi stasiun KA Jombang adalah
Sementara jalur kereta api yang sudah tidak aktif lagi antara lain jurusan :
- Jombang-Pare-Kediri
- Jombang-Ploso-Kabuh-Babat. Jalur ini dulu melewati depan tugu Ringin Contong yang menjadi ciri khas kota Jombang.
Angkutan lokal
Untuk transportasi intra wilayah kabupaten, terdapat Angkutan
Pedesaan dengan 24 trayek, yang menjangkau ke semua kecamatan. Ini masih
ditambah lagi dengan adanya trayek angkutan antarkota yang
menghubungkan kota Jombang dengan wilayah kabupaten di sekitarnya, yakni
jurusan Pare, Kandangan, Babat, Kertosono, serta Mojokerto.
Pariwisata
Kabupaten Jombang memiliki berbagai keindahan alam, dan potensi
pariwisata lain yang menarik. Sangat disayangkan, potensi tersebut pada
umumnya belum digali, dan tidak memiliki pendukung sarana, dan prasarana
yang memadai untuk memajukan pariwisata di Kabupaten Jombang, sehingga
menunggu adanya investasi untuk menggarapnya. Hal ini sangat penting,
dan menguntungkan, mengingat posisi Kabupaten Jombang yang bersebelahan
dengan daerah tujuan wisata alam Malang di tenggara, dan Pacet-Trawas-Tretes di timur; serta wisata historis (situs Majapahit) Trowulan. Di Jombang memiliki beberapa tempat pariwisata yang menarik, yaitu Pemandian Sumberboto di Mojowarno, Candi Arimbi di Bareng, Sendang Made di Kudu, Kedung Cinet di Plandaan, Kedung Sewu serta Desa Manduro yang berpenduduk asli Madura di Kabuh, perkebunan teh, cengkeh, dan durian di Wonosalam serta air terjun Tretes di Wonosalam. Dan juga arung jeram (Rafting) di desa Panglungan, Wonosalam. Selain itu juga terdapat wisata religi yaitu makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasyim Asyari
di Tebuireng, Diwek, serta bangunan gereja tertua di Jawa Timur yaitu
GKJW Mojowarno. Selain itu terdapat wisata buatan, salah satunya yaitu
Tirta Wisata yang terletak di wilayah Peterongan.[16]
Nah, sudah cukup jelas kan penjelasan tentang Kabupaten Jombang. Dan,kenapa aku bisa nyasar di Malang? Jawabannya simple, transmigrasi aja hehe. Tinggal di Jombang cuman sampai umur 2 tahun. Dan sekarang umurku sudah 20 tahun, berarti sudah 18 tahun aku di Malang, jadi warga Malang. Sesekali pulang ke Jombang, karena masih ada sisa- sisa peninggalan keluarga disana. Walaupun hanya 2 tahun tinggal di Jombang, setidaknya aku pernah menjadi bagian dari Kabupaten itu :). Suasana yang paling dirindukan, main di hilir sungai sambil balapan perahu kertas, mancing ikan kecil- kecil, sampai lomba cari Yuyu (Kepiting sungai).Nggak bakalan bisa terulang, semakin berkembangnya teknologi, banyak yang berubah pula. Walaupun begitu, Jombang adalah salah satu Kabupaten yang menghasilkan orang- orang terdidik dan berakhlak.